Ini Mbok Tercinta
Keluarga Tercinta
Februari 19, 2008 by wijayaiketutBelajar Yang Efektif dan Efesien
Februari 19, 2008 by wijayaiketutApakah itu belajar
Apakah sebenarnya belajar itu? banyak ahli yang memberikan definisi tentang belajar. Gagne mengemukakan bahwa belajar adalah suatu proses dimana suatu organisme berubah prilakunya sebagai akibat dari pengalaman. menurut aliran konstruktivisme, proses pembelajaran adalah memberikan tekanan kepada pengkonstruksian makna pengetahuan yang telah ada sebelumnya dan input-input sensori yang baru serta menekankan pada pentingnya hubungan-hubungan oleh siswa di dalam mengkonstruksi makna. proses pengkonstruksian makna bisa terjadi antara ide-ide yang telah mereka miliki dan input-input yang dipilih. dapat juga terjadi antara pengalaman-pengalaman mereka sebelumnya dalam dunia mereka sehari-hari dan ide-ide baru yang mereka temukan di sekolah. belajar menurut pandangan konstruktivisme merupakan modifikasi dari ide-ide yang ada pada diri siswa, karena itu belajar adalah suatu proses pembentukan pengertian dari pengalaman-pengalaman dalam hubungannya dengan pengetahuan sebelumnya.
Belajar seharusnya memiliki tiga tujuan, yaitu:
Mempelajari keterampilan dan pengetahuan tentang materi-materi spesifik. Mengembangkan kemampuan konseptual umum, mampu belajar menerapkan konsep yang sama atau berkaitan dengan bidang yang lain. Mengembangkan kemampuan dan sikap pribadi yang secara mudah dapat digunakan dan setiap tindakan kita.Banyak sudah metode belajar yang diajukan oleh ahli dan memberikan hasil yang baik. Namun, apakah hal tersebut berarti memberikan kepuasan kepada si pebelajar?”saya adalah anak pandai dan berhasil di sekolah, namun belajar tidak pernah menjadi hal yang menyenangkan bagi saya”.
Model Penilaian Portofolio Berbasis Group Investigation
Februari 18, 2008 by wijayaiketutDunia pendidikan mendapat sorotan yang sangat tajam berkaitan dengan tuntutan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, yaitu sumber daya manusia yang mampu “hidup” di abad ke-21 (Degeng, 2001:1). Pendidikan sebagai sumber daya insani sepatutnyalah mendapat perhatian secara terus menerus dalam upaya peningkatan mutunya. Peningkatan mutu pendidikan berarti pula peningkatan kualitas sumber daya manusia (Santyasa, 2003b:1).Untuk menanggulangi masalah mutu pendidikan, pemerintah telah melakukan berbagai upaya, baik yang bersifat makro maupun mikro. Upaya-upaya yang dimaksud adalah: penetapan Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, penyempurnaan kurikulum 1994 atau kurikulum berbasis isi menjadi kurikulum 2004 atau Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), pengadaan bahan ajar dan buku refrensi lainnya, penataran guru tentang proses belajar mengajar, kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), dan lain sebagainya. Namun, usaha-usaha yang dilakukan tersebut belum mencapai hasil yang optimal.Pemberlakuan kurikulum 2004 sebagai kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dimaksudkan sebagai kurikulum yang mampu memfasilitasi siswa dalam pengembangan kompetensi mereka yang meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap serta minat siswa pada setiap mata pelajaran yang tercantum dalam kurikulum itu. Oleh karena itu, penilaian pembelajaran atau penilaian hasil belajar dalam pelaksanaan KBK perlu dilakukan berdasarkan informasi yang selengkap mungkin mengenai siswa yang bersangkutan, agar maksud tersebut dapat terlaksana (Depdiknas, 2004:1). Pembelajaran diharapkan dapat mengembangkan semua aspek dan potensi yang ada pada peserta didik, baik aspek kognitif, afektif maupun psikomotornya. Penilaian pada KBK dilaksanakan secara terpadu dengan kegiatan belajar mengajar sehingga disebut penilaian berbasis kelas (PBK). PBK dilakukan untuk memberikan keseimbangan pada ketiga ranah, yaitu: ranah kognitif, afektif, dan psikomotor dengan menggunakan berbagai bentuk dan model penilaian formal dan informal secara berkesinambungan (Rustaman, 2004:2). Sejalan dengan penilaian berbasis kelas, paradigma pendidikan menghendaki bahwa tujuan pembelajaran sebenarnya ialah “belajar membelajarkan diri sendiri”. Pandangan ini tidak cocok diterapkan dengan menggunakan penilaian konvensional paper and pensil test, dimana siswa dipandang sebagai individu yang pasif serta pengetahuan merupakan sesuatu yang pasti dan bersifat tetap. Menurut Haney, et al., (dalam Jaenudin, 1999:24), penilaian yang hanya berdasarkan pada tes menimbulkan beberapa persoalan dan kelemahan, yaitu: dapat memberikan informasi yang salah karena belum cukup informasinya, dalam pelaksanaannya tidak adil dan cenderung menyimpang/bias, cenderung mengabaikan proses pembelajaran, membutuhkan banyak waktu, energi dan perhatian yang memerlukan pemikiran yang dapat mengurangi daya kreativitas siswa. Begitu pula menurut Mills (dalam Jaenudin, 1999:24), penilaian yang hanya mengandalkan suatu alat penilaian (tes tertulis) tidak akan mampu menilai secara utuh, bermakna, dan akurat, karena tidak mungkin alat penilaian bisa menjangkau berbagai aspek yang ada pada diri siswa.Berdasarkan hasil observasi di SMA PGRI 1 Amlapura, ada beberapa faktor yang diindikasikan sebagai penyebab masih rendahnya hasil belajar fisika siswa, yaitu sebagai berikut.Pertama, pola pembelajaran fisika cenderung menggunakan metode ceramah lalu dilanjutkan dengan latihan soal sehingga kurang adanya keragaman metode dan pola belajar. Pembelajaran lebih didominasi dengan metode ceramah sehingga siswa cenderung sebagai pendengar yang pasif. Selain itu, jumlah kelas yang cukup besar juga tidak memungkinkan untuk memberi perhatian dan bimbingan secara menyeluruh kepada semua siswa. Kondisi yang demikian menyebabkan guru menjejalkan materi kepada siswa dan pembelajaran di kelas menjadi sepenuhnya berpusat pada guru (teacher centered). Siswa merasakan adanya jurang pemisah yang cukup tinggi antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah. Mereka cenderung bekerja sendiri-sendiri dan jarang melakukan tukar informasi dengan teman-teman dikelasnya. Padahal, dalam KBK dituntut dalam proses pembelajaran, siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil atau bekerja mandiri, dalam rangka mempelajari teori dan contoh, mengerjakan tugas-tugas, menggunakan alat-alat bantu, mempelajari atau memilih pustaka dan mempelajarinya. Diharapkan pula guru mengajak siswa secara keseluruhan untuk melakukan diskusi kelas, guru bertugas sebagai fasilitator untuk memberikan bantuan secara klasikal atau individual kepada siswa yang membutuhkan (Depdiknas, 2004:1). Kedua, evaluasi terhadap pembelajaran masih terbatas pada paper and pencil test sebagai satu-satunya alat penilaian dalam mengukur keberhasilan siswa pada aspek kognitif, sedangkan aspek keterampilan dan sikap yang juga menjadi tuntutan kurikulum dalam penilaian proses pembelajaran di kelas belum dilakukan penilaian secara optimal oleh guru. Penekanan lebih banyak pada hasil belajar dari pada proses. Sementara penilaian terhadap kinerja siswa dalam bentuk penugasan cenderung diabaikan dan tidak diperhitungkan sebagai suatu model penilaian alternatif yang lebih bermakna. Guru mengalami kesulitan dalam menafsirkan kedalaman kompetensi dasar yang dimaksudkan dalam KBK dan tidak ada kriteria yang jelas dengan tingkat ketercapaian kompetensi, sehingga menyulitkan dalam penilaian. Permasalahan utama yang dihadapi guru adalah dalam mengintegrasikan penilaian ke dalam pembelajaran yang dituntut oleh KBK, yang selama ini dipandang guru sebagai kegiatan terpisah. Guru juga masih kesulitan membuat rubrik/kriteria penilaian dari masing-masing aspek (kognitif, afektif, dan psikomotor) yang mampu mengungkap keberhasilan belajar peserta didik secara menyeluruh yang mencakup aspek proses dan hasil belajar siswa. Kondisi tersebut, akan berpengaruh pada penentuan keutuhan gambaran (profil) prestasi dan kemajuan belajar siswa di dalam proses pembelajaran. Sementara, disatu sisi ditekankan bahwa untuk mengetahui perkembangan dan kemajuan belajar peserta didik perlu dilakukan penilaian, yaitu penilaian yang mencakup proses dan hasil belajar peserta didik yang berkaitan dengan aspek pengetahuan, sikap, perilaku dan keterampilan yang telah direncanakan dalam kurikulum (Jaenudin, 1999:20).Ketiga, keterbatasan guru dalam mengemas pembelajaran di kelas yang dapat memberikan kebebasan kepada siswa untuk mengembangkan pola pikirnya. Guru masih menganut paham bahwa belajar adalah proses transmisi pengetahuan dan mengemas pembelajaran yang kebanyakan bernuansa mengatur kebebasan peserta didik. Siswa dikondisikan untuk senantiasa duduk tenang dan memperhatikan penjelasan-penjelasan guru, serta mencatat hal-hal yang dituliskan oleh guru di papan. Guru jarang memberikan kesempatan kepada siswa untuk secara mandiri melakukan investigasi terhadap materi-materi yang menjadi pokok bahasan pada setiap proses pembelajaran. Hal ini sangat berdampak pada kebiasaan siswa untuk senantiasa menunggu informasi dari guru tanpa berupaya mencari informasi baru yang dapat menambah pengetahuannya. Pola pembelajaran seperti ini, nampaknya kurang optimal dalam mengembangkan pola pikir siswa. Padahal, menurut pendekatan konstruktivis dalam pengajaran menekankan bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit jika mereka saling mendiskusikan masalah tersebut dengan temannya (Nur & Wikandari, 2000:8). Berdasarkan uraian tersebut, maka perlu adanya upaya penyempurnaan proses pembelajaran, baik itu menyangkut penerapan model penilaian alternatif yang lebih inovatif yaitu penilaian proses dan hasil belajar yang dapat mengukur perkembangan dan kemajuan siswa secara menyeluruh yang mencakup aspek proses dan hasil belajar siswa maupun model pembelajaran yang mampu memfasilitasi siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya secara optimal. Mengurangi metode ceramah, tetapi dalam belajar menempatkan guru sebagai fasilitator dan mediator. Siswa diharapkan dapat mengetahui apa makna belajar, apa manfaatnya dan bagaimana cara mencapainya. Guru sebagai fasilitator dan mediator diharapkan mampu menjembatani perbedaan karakteristik dan jurang pemisah antar siswa, sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung dengan baik, antara siswa dapat saling tukar informasi dan mengisi kekurangannya demi tercapainya tujuan pembelajaran secara optimal.Sehubungan dengan masalah-masalah yang disebutkan sebelumnnya, maka dalam penelitian sangat dipandang penting diterapkannya suatu persepektif penilaian baru yaitu penilaian portofolio pada pembelajaran fisika melalui model pembelajaran group investigation (GI) sebagai upaya meningkatkan kompetensi dasar siswa. Hal ini sejalan dengan tuntutan kurikulum 2004 atau kurikulum berbasis kompetensi yang menghendaki penilaian portofolio sebagai salah satu alternatif penilaian di kelas (Surapranata & Hatta, 2004). Portofolio merupakan catatan atau kumpulan hasil karya siswa, sebagai hasil pelaksanaan tugas kinerja, yang ditentukan oleh guru atau oleh siswa bersama guru, sebagai bagian dari usaha mencapai tujuan belajar, atau mencapai kompetensi yang ditentukan dalam kurikulum (Depdiknas, 2004:3). Menurut Anwar (2005), penilaian portofolio mengarah kepada penilaian unjuk kerja siswa baik proses maupun produk. Penilaian proses yaitu menilai sejauhmana siswa dapat melakukan sesuatu pekerjaan sesuai dengan prosedur dan tata cara yang benar. Penilaian produk yaitu menilai bukti fisik tugas yang sudah dikerjakan siswa yang dapat dilihat melalui kelengkapan tugas atau isi yang sesuai dengan kriteria yang dibuat. Sedangkan menurut Hill dan Ruptic (dalam Santyasa, 2004:72), suatu portofolio kelas adalah suatu koleksi kerja siswa yang terorganisasi dan refleksi diri yang membantu mengulas potret anak secara keseluruhan. Dengan demikian penilaian portofolio dapat menilai belajar siswa secara menyeluruh baik aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.Beberapa penelitian sebelumnya telah memberikan bukti yang meyakinkan mengenai keefektifan dan keotentikan penerapan portofolio dalam pengajaran fisika. Rivard (dalam Santyasa, 2004a:70) menyatakan bahwa penulisan tugas-tugas seperti membuat ringkasan, merumuskan penjelasan, dan menganalisis fenomena fisika dapat meningkatkan belajar siswa. Penelitian yang dilakukan oleh Astuti (2004) menunjukkan bahwa penerapan penilaian portofolio dalam pembelajaran inquiri terbimbing dapat meningkatkan kompetensi dasar fisika siswa di SMP Negeri 2 Singaraja. Hal ini memberikan suatu indikasi bahwa penilaian portofolio relevan diterapkan dalam pembelajaran fisika seiring dengan penerapan kurikulum berbasis kompetensi yang menekankan pada penguasaan kompetensi dasar siswa. Sejalan dengan penerapan penilaian portofolio tersebut, di sisi lain perlu diimbangi dengan model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan pola pikirnya secara optimal. Model pembelajaran yang cocok untuk menerapkan penilaian portofolio guna mengetahui perkembangan dan kemajuan siswa adalah pembelajaran group investigation (GI). Pembelajaran group investigation (GI) memberikan peluang yang sama dengan penilaian portofolio, yaitu pembelajaran yang beroriantasi pada aktivitas kelas yang berpusat pada siswa dan memungkinkan siswa belajar memanfaatkan berbagai sumber belajar dan tidak hanya menjadikan guru sebagai satu-satunya sumber belajar. Model pembelajaran group investigation (GI) merupakan model pembelajaran kooperatif yang paling kompleks dan dikembangkan pertama kali oleh Herbert Thelen (Santyasa, 2005:14). Dalam penerapan group investigation (GI) guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok dengan anggota 4 sampai 5 orang siswa yang heterogen. Model group investigation (GI) secara utuh memiliki enam langkah pembelajaran (Slavin, 1995) yaitu: (1) grouping, (2) planning, (3) investigation, (4) organizing, (5) presenting, dan (6) evaluating. Sistem sosial yang dikembangkan adalah minimnya arahan guru, demokratis, guru dan siswa memiliki status yang sama yaitu menghadapi masalah, interaksi dilandasi oleh kesepakatan. Guru lebih berperan sebagai konselor, konsultan, dan sumber kritik yang konstruktif. Implementasi model pembelajaran group investigation (GI) telah banyak dibuktikan sebagai model pembelajaran yang efektif dalam pembelajaran di kelas. Model GI telah terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa sesuai dengan hasil penelitian Sharen et al., di Israel pada tahun 1984; Sharen dan Shachar di Israel pada tahun 1998; Sherman Zimmerman di Ohio, Amerika Serikat pada tahun 1986 (Slavin, 1995). Sementara, Penelitian Santyasa (2004b) membuktikan bahwa model GI dalam pencapaian hasil belajar fisika lebih baik daripada MURDER dan STAD. Dalam model pembelajaran group investigation (GI) memungkinkan guru dapat menerapkan penilaian portofolio, karena dalam pembelajaran dengan group investigation (GI) ini siswa yang berperan aktif dalam proses pembelajaran. Guru hanya berfungsi sebagai mediator dan fasilitator. Melalui enam tahapan pembelajaran, siswa dapat mengembangkan kemampuan berpikir dan potensi dirinya secara optimal. Hal tersebut mempermudah penerapan penilaian portofolio, di mana dalam setiap tahapan pembelajaran tersebut dapat digunakan sebagai alat dan bahan dalam penilaian portofolio siswa.